Tuesday, May 19, 2015

Rabi’ah Al Adawiyyah Sang penyair cinta

Rabi’ah Al Adawiyyah
Sang penyair cinta
 Bude & Bu Nyai Dimyati Romli Beserta Putri & Ibu I Love U All!

Perjalanan rabiah
Rabi’ah binti ismail Al Adawiyyah ra adalah seorang wanita yang dilahirkan dikota Basrah Irak. Dia adalah muslimah yang memiliki kesucian jiwa serta sifat-sifat mulia, kezudan atau tidak memperdulikan terhadap kepentingan duniawi merupakan satu sifat yang menjadi cirikhasnya, kecintaanya pada Allah swt menjadikan seluruh waktunya hanya digunakan untuk mendekatkan diri kepada Allah swt serta segala perbuatanya hanya didasari demi meraih ridho Allah swt.

CINTA SUCI KEPADA ALLAH SWT
Kehadiran Rabi’ah Adawiyyah ra dalam dunia Sufisme Islam telah memberi warna yang luar biasa, itu semua karene jalan sufi yang ditempuh Rabi’ah Adwayah ra bermuara pada cinta suci pada Allah swt (mahabbah ilahi) yang dijelmakan dalam kehidupan sehari-hari dalam rupa ketawadu’an rendah hati, ihlas, sabar, penyayang dalam balutan kezuhudanya. ketaatan Rabi’ah Adawaiyyah ra pada Allah swt tidak karena ketakutan yang menyelimuti hatinya atau harapan surga yang diidamkanya, namun semata-mata hanya karena panggilan cinta ilahi yang telah menguasahi diri Rabi’ah Adawiyyah ra.  

Tumbuh dewasa sebagai muslimah sholihah yang berilmu tinggi dan memiliki keteguhan prinsip dan iman yang sangat kuat, menjadikan banyak ulama, saudagar muslim dan pejabat muslim ingin memperistri Rabi’ah Adawiyah ra, namun semua lamaran tersebut beliau tolak dengan mutiara katanya yang penuh hikmah. Dikisahkan, pada suatu saat Ja’far bin Sulaiman Alhasyimi dari basrah seorang saudagar kaya muslim yang terkenal, menyiapkan uang sebesar 80.000 dirham untuk diberikan pada Ulama’ Bashrah supaya bermusyawarah guna memilihkan calon istri yang pas untuk dinikahi, dan dari hasil musyawarah ulama tersebut menyepakati bahwa Rabi’ah Adawiyah adalah wanita yang pantas dinikahi Ja’far bin Sulaiman, kemudian Ja’far bin Sulaiman mengunkapkan pinanganya pada rabiah melalaui surat yang ditolak rabiah adawiyah dan disampaiakn pula melalaui surat, berikut kutipan surat rabi’ah adawayyaih “ busmillahirrahmanirahim, sesungguhnya meninggalkan gemerlap rayuan dunia adalah ketenangan jiwa raga, dan mencintainya hanya akan mendatangkan prahara dan kekhawatiran. Saat anda membaca suratku, maka siapkanla bekalmu, dahulukan tempat keabadianmu serta jadikan dirimu sebagai penjaga jiwamu, jagalah waktumu dan jadikanlah kematian cambuk semangatmu, tidak pernah akan membuatku bahagia seandainya Allah swt memberiku jutaan kali lipat dari apa yang telah diberikan allah swt kepadamu namun membuatku lupa dari tuhanku meski sekejap mata[1]. Jalan hidup yang dipilih Rabi’ah Adawiyyah untuk hidup sendiri[2] bukan berarti menganggap pernikahan bukanlah kesunahan dalam islam, karena didalam islam tidak ada istilah rohbaninyyah (kependetaan) yang mengharuskan hidup dengan tanpa menikah, pilihan Rabi’ah Adawiyyah untuk menjalani hidup sendiri lebih karena tidak mau menjadi beban orang lain dan supaya lebih bisa memaksimalkan diri dalam beribadah pada Allah swt.

Robi'ah al Adawiyah ra seorang wanita yg banyak menangis dan bersedih, ketika mendengar tentang neraka maka beliau pingsan beberapa saaat. beliau berkata : " istigfarku membutuhkan istigfar yg lain "beliau merupakan sosok yang tidak mau menjadi beban orang lain, beliau biasa menolak apa yg diberikan oleh orang-orang seraya berkata : " aku tidak punya kebutuhan degan dunia " Rabi’ah Adawiyyah ra juga terkenal sebagai pujangga besar sufi yang menelurkan mujtiara-mutiara hikmah lewat ucapan dan syair-syair cintanya pada Allah swt, bahkan syair-syair Rabi’ah Adawiyyah mampu memberikan corak dalam perjalanan sufisme Islam digenerasi setelahnya.

Al ustadz Abu Qosim menceritakan bahwa saat Rabi’ah Adawiyyah ra bemunajat kepada allah dan mengucapkan “ ilahi, disaat enkau membakar hati-hati yang mencintaimu” tiba-tiba munculah hatif (suara tanpa rupa) yang berkata “tidak..! kami tidak akan membakar hati orang-orang ysng mencintai kami, maka janganlah enkau berprasanka buruk pada kami”. beliau pernah mendengar Sufyan Atsauri ra berkata : " aduh..sedihnya " beliau berkata : " aduh..yg sedikit sedihnya , jika engkau banyak sedihnya maka tiada penghidupan disana." Masih dengan Sufyan Atsauri ra, bahwa Rabi’ah Adawiyyah ra mendengar Sufyan Atsauri ra berdoa : ya allah, berikanlah ridhomu kepadaku, mendengar doa tadi, sontak Rabi’ah Adawiyyah ra berkomentar “masihkah enkau punya malu disaat enkau meminta ridho dari tuhan yang kamu tidak pernah ridho atas segala tindakanya”. Komentar Rabi’ah Adawiyyah ra demikian juga didengar oleh asyaikh ja’far bin sulaiman ad-dhibi lantas beliau bertanya kepada Rabi’ah Adawiyyah ra, bagaimana cara ridho kepada allah ? beliau menjawab “disaat ridhomu mendapat musibah sama dengan ridhomu mendapat ni’mat”. Salah satu statmen yang dikeluarkan Rabi’ah Adawiyyah ra yang terkenal adalah “setiap yang nampak dari amalku, maka tidak ku anggap sebagai amalku sama sekali. Rabi’ah Adawiyyah ra juga berwasiat ” sembunyikan serapat munkin amal baikmu seperti kamu menyembunyikan kejelekanmu dari orang lain.

setelah mencapai umur 80 tahun beliau sangat kurus yang mengakibatkan beliau selalu hampir jatuh saat berjalan. kain kafan beliau selalu diletakkan dihadapannya. tempat sujud beliau bagaikan tempat genangan air, yaitu dari air matanya. Diriwayatkan dari abadah wanita pelayan rabi’ah adawiyyah bahwa Rabi’ah Adawiyyah ra selalu menghabiskan waktu malam nya untuk beribadah kepada allah, saya (abadah) melihat Rabi’ah Adawiyyah ra meloncat dari tempat tidur dalam keadaan kaget seraya berkata “ wahai nafsu.. mau sampai kapan enkau tidur ? mau sampai kapan enkau tidur ? aku takut enkau tertidur dan tidak bisa  bangun lagi sampai enkau mendengar jeritan di hari kebangkitan” begitulah kondisi Rabi’ah Adawiyyah ra menjalani kehidupan malamnya sampai beliau meninggal. Juga diriwayatakan dari abadah disaat Rabi’ah Adawiyyah ra merasakan dekatnya kematian, beliau memanggilku,  dan berkata “ wahai abadah, janganlah kematianku nanti merepotkan orang lain, dan setelah akau mati, kafanilah akau dengan jubah ini (jubah yang selalu dipakai beribadah pada allah saat orang-orang terlelap)”. dan ketikab beliau meninggal akupun menunaikan amanah beliau dengan mengkafaninya menggunakan jubah dan mukena dari bulu yang biasa beliau kenakan semasa hidup, setelah satu tahun kematian beliau aku bermimpi bertemu denganya yang telah mengenakan pakaian mewah nan indah dari sutra yang belum pernah kulihat bandinganya didunia, lantas akau berkata : wahai Rabi’ah Adawiyyah, apa yang telah enkau perbuat dengan jubah dan mukena yang aku pakaikan di jenazahmu ? beliau menjawab “ sesungguhnya pakaian yang kamu kenakan padaku telah di tanggalkan dariku, dan diganti dengan pakain seperti yang kamu lihat sekarang ini, kain kafan yang menutupi jenazahku telah dilipat dan di ankat di surga iliyyin dimana pahalaku akan disempurnakan dihari Qiyamat dengan menggunkan kain kafan itu”.  Lalu aku bertanya lagi : apakah karena ini semua kamu menjalani hidupmu ? dan beliau menjawab ” ini semua bukanlah apa-apa disaat enkau melihat kedermawanan Allah swt pada kekasi-kekasihnya” akupun bertanya lagi : apa yang telah diperoleh Abidah binti Abi Killab ra ? beliau menjawab “ luar biasa, sungguh luar biasa.  Dia telah mendahuluiku dengan mendapat derajat yang mulia di sisi allah” munkinkah ? padahal kamu lebih terkenal didunia ? beliau menjawab lagi “Abidah binti Kilab ra adalah sosok wanita yang sama sekali tidak memikirkan keadaan dunianya disaat menjelang pagi dan menjelang sore”, aku bertanya lagi padanya : gerangan apa yang dialami Abu Malik, beliau menjawab “dia mendapat anugrah dengan selalu sowan kepada Allah swt kapanpun ia mau” aku bertanya lagi : lantas apa yang didapat Bisyri bin Mansyur ? beliau menjawab dengan takjub “ouhh...! dia telah mendapat anugrah dari Allah swt dengan anugrah yang tidak mampu digambarkan”, kemudian saya meminta kepada Rabiah Adawiyyah tentang ibadah yang dapat mendekatkan diri saya kepada Allah swt, lalu beliau menjawab : istiqomahlah dalam berdzikir mengingat allah, niscaya enkau akan mendapatkan balasan yang indah darinya”[3].
Rabi’ah Adawiyyah ra berpulang menghadap kekasih hidupnya ditahun 185 H, jasad beliau dikebemukian di Khairo Mesir yang sampai saat ini ramai dikunjungi peziarah yang ingin mendapatkan barakah Allah swt lantaran kekasihnya itu. Sepanjang sejarah, ajaran Rabi’ah Adawiyyah ra yang memeperkenalkann Suluk Mahabbah (cinta) ilahi telah dipelajari para salik-salik yang mendekatkan diri kepada Allah swt, karena didalam ajaran itu terdapat makna yang sangat dalam yang melebihi makna cinta itu sendiri.  manaqib beliau juga sangatlah banyak dan terkenal.  semoga Allah ta'ala meridhoinya.

Ringkasan autoboigrafi 40 wanita mulia
By Fmunif.212@gmail.com




[1] Muhtashor tarih dimasqo 2/276
[2] Sebagian riwayat mengatakan kalau rabiah adawiyah menikah
[3] Mir’atul jinan waibrotul yaqodhon fi khawadisi zaman 1/130